Kamis, 26 September 2013

Kekuatan Cinta,

 Kekuatan Cinta,
 Impian dan Do’a, membuatku melayang di atas awan

Milikilah cita-cita setinggi Langit, jangan Cuma setinggi langit-langit..
Jika kau tidak sampai ke langit, maka kau akan sampai pada titik tertinggi dari kemampuanmu naik. Tapi  jika cita-citamu Cuma setinggi langit-langit, kau tak mungkin lebih tinggi dari itu, meski sebenarnya kemampuanmu setinggi langit.


            Jika pedang menjadi demikian kuat dan tajam, maka sesungguhnya ia telah melewati tempaan yang hebat sebelum itu. Ia hanya baja yang tak bernilai awalnya, lalu dibakar dan dihantam berkali-kali, barulah kemudian menjadi istimewa. Maka jika hidup adalah perjuangan, mereka yang tahan ujilah yang kelak menjadi istimewa, dan menjadi pemenangnya.
***
            Gemuruh suara pesawat saat take off membuatku teringat kisah adam air yang na’as itu. Maka kubuka Al Qur’an, mulai bertilawah dengan kekhusyu’an yang sangat berbeda, lebih terasa, lebih manis dan membuatku merasa sangat nyaman. Perlahan pesawat meninggi, dan aku tak mungkin melewatkan moment itu untuk bersyukur.  Ini adalah pertamakalinya aku berangkat ke luar negeri, sendirian pula, dan hanya dengan bekal materi seadanya.  Aku teringat dengan ayat itu lagi, Q.S Al hadid ayat 22-23. 

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfuz) sebelum kami mewujudkannya.  Sungguh yang demikian itu mudah bagi Alloh.  Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.  Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S Al Hadid : 22-23)

kuarahkan pandangan ke luar jendela, aku sedang melayang di atas awan kini.  Aku tersenyum, dengan senyum yang berbeda ketika kutulis impian no 10 di daftar impianku, “Go Abroad tahun 2011”. Kali ini aku tersenyum bersama kenyataan, bukan lagi impian. Senyum puas yang membayar semua pengorbananku kemarin.  Ah, aku tak bisa lagi mengungkapkannya... aku sungguh bahagia, benar-benar bahagia. Mungkin karena saking bahagianya,,mataku sampai tak rela terpejam biarpun sejenak. Dan meski diserang kantuk yg luar biasa, aku tak juga bisa tertidur. Bahagia ini, malah memaksaku menengok masa lalu, mengambil pelajaran besar untuk bersyukur, dan untuk terus berjuang. ..
****
Aku terlahir dari keluarga sederhana 23 tahun yang lalu, dari pelosok desa di Tasikmalaya.  Orang tuaku berbisnis konveksi, sayang aku tak sempat merasakan kisah sukses bisnis mereka. Saat usiaku 2,5 tahun, Allah memanggil Ibu tercinta,  sebelum sempat kurekam jelas wajahnya di benakku. Hingga untuk membayangkan wajahnya saja bahkan aku tak mampu. Setelah itu Ayah sakit menahun hingga membuat bisnisnya tak terurus. Ayahpun menyusul Ibu saat usiaku baru menginjak 10 tahun, kelas 4 SD ketika itu. Sejak itu, aku harus hidup dan berjuang sebagai yatim piatu.  Selanjutnya aku tinggal bersama Paman dan Bibi.  Mereka mendidikku untuk mandiri, tidak keras, tapi cenderung sangat tegas.

Sejak SD, prestasiku di bangku sekolah sebenarnya lumayan, aku sangat antusias terhadap pendidikan, hingga berharap bisa sekolah di SMP favorit. Tapi kondisiku tak memungkinkan untuk menuntut terlalu tinggi. Di desaku, yang masih punya orang tua saja amat banyak yang tidak bisa melanjutkan ke SMP.
Meski bukan di SMP favorit, aku sangat menikmati masa-masa SMP. predikat rangking 1 tak pernah lepas, hingga beasiswa mulai menjadi bagian dari hidupku.  Kebutuhan sekolahku cukup terpenuhi. Aku lulus SMP dengan predikat nilai tertinggi. Dan Alhamdulillah prestasi itu cukup untuk meyakinkan keluarga bahwa aku layak melanjutkan ke SMA yang kuinginkan.

Keluarga sangat menekankan masalah pendidikan, sehingga berprestasi di sekolah menjadi satu-satunya pilihan jika aku ingin melanjutkan kuliah. Maka demi impian besar itu, masa-masa SMA kuoptimalkan sepenuh hati untuk belajar. Jikapun ada sedikit sisa waktu senggang, selalu kumanfaatkan untuk melatih kemandirian. Aku mulai aktif berjualan aksesoris remaja ketika itu. Bukan uangnya yang penting, tapi pengalaman. Dan dari pengalaman-pengalaman itu pula aku mulai mencintai aktivitas bisnis.

Rangking 1, Alhamdulillah bisa kupertahankan sampe kelas 3. Itu pula yang membuatku diterima secara otomatis di salah  satu perguruan tinggi negeri lewat jalur PMDK. Prestasiku di bangku SMA akhirnya menguatkan keluarga untuk mendukungku melanjutkan kuliah. kedua kakakku sebelumnya hanya mampu melanjutkan sampai tingkat SMA. Sungguh aku beruntung... masih berkesempatan melempar asa ke ujung cakrawala, bermain dengan langit dan gemintangnya, bermimpi untuk kuliah setinggi-tingginya dan kelak menjadi manusia yang penuh manfaat.

Meski telah diterima di PTN, problem ekonomi dan ambisi pribadi membuatku tetap mengikuti tes masuk STAN jakarta. Aku harus sekolah di tempat yang gratis pikirku. Namun akhirnya aku gagal.  Taqdir membawaku pada sebuah awal cerita lain yg trnyata lbih dahsyat, dimana akhirnya aku harus kuliah, sekaligus memikirkan  uang saku, kost, dan tentu saja SPP.  Beruntung uang SPP dan kost bisa tertutup dari beasiswa.  PR ku tinggal uang makan. Waktu itu, kuputuskan membeli sepeda dengan sisa uang yang kupunya.  Sepeda reyot dan tua seharga 150 ribu. “Ah.. yang penting bisa dipakai” pikirku.  Aku memang berniat menggunakannya untuk jualan, melanjutkan kebiasaan semasa SMA. 

Semester pertama kucoba berjualan kue ke kost-kost. Setiap Ba’da subuh aku berangkat menuju pasar, membeli kue dan menitipkannya ke kost-kostan. Maka tak jarang jika ada kuliah jam7 pagi, pasti aku terlambat. Jam 06.45 aku baru selesai keliling menitipkan kue, belum mandi dan perjalanan ke kampus. Tidak hanya terlambat, tapi juga harus menahan kantuk setelah tiba di kelas. Belanja dan berkeliling naik sepeda tentu menguras banyak tenaga.

Semester 2, aku mendapat beasiswa yang lumayan besar. Sisa beasiswa kugunakan untuk modal berjualan kerudung, selanjutnya ditambah jualan baju koko, juga batik. Alhamdulillah aktivitas berjualan membuatku bertahan sampai kuliah tingkat akhir.

Meski disibukan dengan kuliah dan bisnis, aku tetap tak mau melewatkan kehidupan organisasi. LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menjadi pilihanku, LDK pula yang membuatku belajar banyak bagaimana menyikapi hidup. Aku tumbuh dan besar bersama LDk, dari mulai staf sampai menjadi pimpinan, dan bersyukur juga sempat mengenyam amanah di tingkat nasional bersama IMMPERTI (Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia). 
Tekadku sangat kuat untuk menyelesaikan studi tepat waktu dengan prestasi yang baik, paling tidak aku ingin membahagiakan mereka yang mencintai dan mensupportku penuh.

Dan Kasih Sayang-Nya memang sungguh luar biasa, dengan izin-Nya, gelar lulusan terbaik bisa diraih. Meski tanpa didampingi kedua orang tua, tanpa pesta, tanpa kumpul keluarga, wisuda ketika itu tetap membuatku bahagia.

Seminggu setelah wisuda, kejutan berikutnya hadir, aku diterima sebagai peserta beasiswa unggulan untuk program S2.  Apa yang kutulis dan kutempel di dinding kamar 4 tahun yang lalu, benar-benar mnjadi kenyataan, “Menjadi lulusan terbaik dan meraih beasiswa S2”. Semua itu membuatku semakin yakin dengan kekuatan cinta, impian, dan do’a.  Dan aku tahu, dibalik semua yang kualami, ada do’a orang-orang yang selalu mencintaiku. 

Selanjutnya, demi menghemat kantong sekaligus mendekatkan diri dengan kebaikan, aku memutuskan untuk tinggal di mesjid. Subhanalloh, mesjid ternyata memberiku lebih dari yang kuharapkan. Hidup di masjid membuatku tertarik untuk mengajar, hingga akhirnya kuputuskan untuk mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar.  Mesjid benar2 membuatku semakin mencintai ilmu. Dan mungkin itu pula yang membuatku tak berhenti memiliki impian tinggi, melanjutkan kuliah, menuntut ilmu di negeri orang.
***************************

            Dan tanpa terasa hari ini,aku telah berada di salahsatu impian itu. Menuju pintu Eropa, Turki. 

Pesawat mendarat di Dhoha, Qatar, setelah melalui 8 jam penerbangan.  Selanjutnya aku harus menunggu 6 jam untuk take off lagi menuju Ankara, turki.  Bandara ini sungguh istimewa, karena ternyata sangat banyak WNI yang bekerja disana, terutama di tempat-tempat belanja bandara.  Pelayanan bandarapun tergolong istimewa. Tak hanya akses internet gratis, tapi juga disediakan laptopnya. Karenanya menunggu 6 jam menjadi terasa sangat singkat.  
Tepat pk 14.45 waktu qatar, pesawat take off menuju ankara, turki.   Aku hanya bisa bertasbih memuji-Nya. Impianku, hanya berjarak 3 jam di depan sana. ...

Tidak ada komentar:

Entri Populer

Translate

PINTAR HERBA

PINTAR HERBA
HALALNETWROK