Kekuatan Cinta,
Impian dan Do’a, membuatku melayang di atas awan
Milikilah cita-cita setinggi Langit, jangan Cuma setinggi langit-langit..
Jika
kau tidak sampai ke langit, maka kau akan sampai pada titik tertinggi
dari kemampuanmu naik. Tapi jika cita-citamu Cuma setinggi
langit-langit, kau tak mungkin lebih tinggi dari itu, meski sebenarnya
kemampuanmu setinggi langit.
Jika pedang menjadi demikian kuat dan tajam, maka sesungguhnya ia telah
melewati tempaan yang hebat sebelum itu. Ia hanya baja yang tak
bernilai awalnya, lalu dibakar dan dihantam berkali-kali, barulah
kemudian menjadi istimewa. Maka jika hidup adalah perjuangan, mereka
yang tahan ujilah yang kelak menjadi istimewa, dan menjadi pemenangnya.
***
Gemuruh suara pesawat saat take off
membuatku teringat kisah adam air yang na’as itu. Maka kubuka Al
Qur’an, mulai bertilawah dengan kekhusyu’an yang sangat berbeda, lebih
terasa, lebih manis dan membuatku merasa sangat nyaman. Perlahan pesawat
meninggi, dan aku tak mungkin melewatkan moment itu untuk bersyukur.
Ini adalah pertamakalinya aku berangkat ke luar negeri, sendirian pula,
dan hanya dengan bekal materi seadanya. Aku teringat dengan ayat itu
lagi, Q.S Al hadid ayat 22-23.
Setiap bencana yang
menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah
tertulis dalam kitab (lauh Mahfuz) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh
yang demikian itu mudah bagi Alloh. Agar kamu tidak bersedih hati
terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S Al Hadid : 22-23)
kuarahkan
pandangan ke luar jendela, aku sedang melayang di atas awan kini. Aku
tersenyum, dengan senyum yang berbeda ketika kutulis impian no 10 di
daftar impianku, “Go Abroad tahun 2011”. Kali ini aku tersenyum bersama
kenyataan, bukan lagi impian. Senyum puas yang membayar semua
pengorbananku kemarin. Ah, aku tak bisa lagi mengungkapkannya... aku
sungguh bahagia, benar-benar bahagia. Mungkin karena saking
bahagianya,,mataku sampai tak rela terpejam biarpun sejenak. Dan meski
diserang kantuk yg luar biasa, aku tak juga bisa tertidur. Bahagia ini,
malah memaksaku menengok masa lalu, mengambil pelajaran besar untuk
bersyukur, dan untuk terus berjuang. ..
****
Aku terlahir
dari keluarga sederhana 23 tahun yang lalu, dari pelosok desa di
Tasikmalaya. Orang tuaku berbisnis konveksi, sayang aku tak sempat
merasakan kisah sukses bisnis mereka. Saat usiaku 2,5 tahun, Allah
memanggil Ibu tercinta, sebelum sempat kurekam jelas wajahnya di
benakku. Hingga untuk membayangkan wajahnya saja bahkan aku tak mampu.
Setelah itu Ayah sakit menahun hingga membuat bisnisnya tak terurus.
Ayahpun menyusul Ibu saat usiaku baru menginjak 10 tahun, kelas 4 SD
ketika itu. Sejak itu, aku harus hidup dan berjuang sebagai yatim
piatu. Selanjutnya aku tinggal bersama Paman dan Bibi. Mereka
mendidikku untuk mandiri, tidak keras, tapi cenderung sangat tegas.
Sejak
SD, prestasiku di bangku sekolah sebenarnya lumayan, aku sangat
antusias terhadap pendidikan, hingga berharap bisa sekolah di SMP
favorit. Tapi kondisiku tak memungkinkan untuk menuntut terlalu tinggi.
Di desaku, yang masih punya orang tua saja amat banyak yang tidak bisa
melanjutkan ke SMP.
Meski bukan di SMP favorit, aku sangat
menikmati masa-masa SMP. predikat rangking 1 tak pernah lepas, hingga
beasiswa mulai menjadi bagian dari hidupku. Kebutuhan sekolahku cukup
terpenuhi. Aku lulus SMP dengan predikat nilai tertinggi. Dan
Alhamdulillah prestasi itu cukup untuk meyakinkan keluarga bahwa aku
layak melanjutkan ke SMA yang kuinginkan.
Keluarga
sangat menekankan masalah pendidikan, sehingga berprestasi di sekolah
menjadi satu-satunya pilihan jika aku ingin melanjutkan kuliah. Maka
demi impian besar itu, masa-masa SMA kuoptimalkan sepenuh hati untuk
belajar. Jikapun ada sedikit sisa waktu senggang, selalu kumanfaatkan
untuk melatih kemandirian. Aku mulai aktif berjualan aksesoris remaja
ketika itu. Bukan uangnya yang penting, tapi pengalaman. Dan dari
pengalaman-pengalaman itu pula aku mulai mencintai aktivitas bisnis.
Rangking
1, Alhamdulillah bisa kupertahankan sampe kelas 3. Itu pula yang
membuatku diterima secara otomatis di salah satu perguruan tinggi
negeri lewat jalur PMDK. Prestasiku di bangku SMA akhirnya menguatkan
keluarga untuk mendukungku melanjutkan kuliah. kedua kakakku sebelumnya
hanya mampu melanjutkan sampai tingkat SMA. Sungguh aku beruntung...
masih berkesempatan melempar asa ke ujung cakrawala, bermain dengan
langit dan gemintangnya, bermimpi untuk kuliah setinggi-tingginya dan
kelak menjadi manusia yang penuh manfaat.
Meski telah
diterima di PTN, problem ekonomi dan ambisi pribadi membuatku tetap
mengikuti tes masuk STAN jakarta. Aku harus sekolah di tempat yang
gratis pikirku. Namun akhirnya aku gagal. Taqdir membawaku pada sebuah
awal cerita lain yg trnyata lbih dahsyat, dimana akhirnya aku harus
kuliah, sekaligus memikirkan uang saku, kost, dan tentu saja SPP.
Beruntung uang SPP dan kost bisa tertutup dari beasiswa. PR ku tinggal
uang makan. Waktu itu, kuputuskan membeli sepeda dengan sisa uang yang
kupunya. Sepeda reyot dan tua seharga 150 ribu. “Ah.. yang penting bisa
dipakai” pikirku. Aku memang berniat menggunakannya untuk jualan,
melanjutkan kebiasaan semasa SMA.
Semester pertama
kucoba berjualan kue ke kost-kost. Setiap Ba’da subuh aku berangkat
menuju pasar, membeli kue dan menitipkannya ke kost-kostan. Maka tak
jarang jika ada kuliah jam7 pagi, pasti aku terlambat. Jam 06.45 aku
baru selesai keliling menitipkan kue, belum mandi dan perjalanan ke
kampus. Tidak hanya terlambat, tapi juga harus menahan kantuk setelah
tiba di kelas. Belanja dan berkeliling naik sepeda tentu menguras banyak
tenaga.
Semester 2, aku mendapat beasiswa yang
lumayan besar. Sisa beasiswa kugunakan untuk modal berjualan kerudung,
selanjutnya ditambah jualan baju koko, juga batik. Alhamdulillah
aktivitas berjualan membuatku bertahan sampai kuliah tingkat akhir.
Meski
disibukan dengan kuliah dan bisnis, aku tetap tak mau melewatkan
kehidupan organisasi. LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menjadi pilihanku, LDK
pula yang membuatku belajar banyak bagaimana menyikapi hidup. Aku
tumbuh dan besar bersama LDk, dari mulai staf sampai menjadi pimpinan,
dan bersyukur juga sempat mengenyam amanah di tingkat nasional bersama
IMMPERTI (Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia).
Tekadku
sangat kuat untuk menyelesaikan studi tepat waktu dengan prestasi yang
baik, paling tidak aku ingin membahagiakan mereka yang mencintai dan
mensupportku penuh.
Dan Kasih Sayang-Nya memang
sungguh luar biasa, dengan izin-Nya, gelar lulusan terbaik bisa diraih.
Meski tanpa didampingi kedua orang tua, tanpa pesta, tanpa kumpul
keluarga, wisuda ketika itu tetap membuatku bahagia.
Seminggu
setelah wisuda, kejutan berikutnya hadir, aku diterima sebagai peserta
beasiswa unggulan untuk program S2. Apa yang kutulis dan kutempel di
dinding kamar 4 tahun yang lalu, benar-benar mnjadi kenyataan, “Menjadi
lulusan terbaik dan meraih beasiswa S2”. Semua itu membuatku semakin
yakin dengan kekuatan cinta, impian, dan do’a. Dan aku tahu, dibalik
semua yang kualami, ada do’a orang-orang yang selalu mencintaiku.
Selanjutnya,
demi menghemat kantong sekaligus mendekatkan diri dengan kebaikan, aku
memutuskan untuk tinggal di mesjid. Subhanalloh, mesjid ternyata
memberiku lebih dari yang kuharapkan. Hidup di masjid membuatku tertarik
untuk mengajar, hingga akhirnya kuputuskan untuk mengajar di salah satu
lembaga bimbingan belajar. Mesjid benar2 membuatku semakin mencintai
ilmu. Dan mungkin itu pula yang membuatku tak berhenti memiliki impian
tinggi, melanjutkan kuliah, menuntut ilmu di negeri orang.
***************************
Dan tanpa terasa hari ini,aku telah berada di salahsatu impian itu. Menuju pintu Eropa, Turki.
Pesawat mendarat di Dhoha, Qatar, setelah melalui 8 jam penerbangan. Selanjutnya aku harus menunggu 6 jam untuk take off
lagi menuju Ankara, turki. Bandara ini sungguh istimewa, karena
ternyata sangat banyak WNI yang bekerja disana, terutama di
tempat-tempat belanja bandara. Pelayanan bandarapun tergolong istimewa.
Tak hanya akses internet gratis, tapi juga disediakan laptopnya.
Karenanya menunggu 6 jam menjadi terasa sangat singkat.
Tepat pk 14.45 waktu qatar, pesawat take off menuju ankara, turki. Aku hanya bisa bertasbih memuji-Nya. Impianku, hanya berjarak 3 jam di depan sana. ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar